20 Macam Teknik Copywriting Paling OkeNih (Panduan Lengkap untuk Pemula hingga Profesional)
Copywriting adalah perpaduan antara seni dan ilmu dalam merangkai kata-kata persuasif (disebut copy) yang bertujuan mendorong audiens melakukan tindakan tertentu. Tindakan ini bisa berupa membeli produk, mendaftar newsletter, mengklik tautan, hingga mengunduh materi digital.
Lebih dari sekadar menjual, copywriting berfokus pada mempengaruhi keputusan melalui kata-kata yang relevan, emosional, dan meyakinkan. Copywriting membantu membangun hubungan antara merek dan audiens, menumbuhkan kepercayaan, serta pada akhirnya meningkatkan konversi bisnis. Teknik ini digunakan di berbagai media, mulai dari iklan cetak, media sosial, website, hingga naskah video dan email marketing.
Tujuan Utama Copywriting
-
Mempengaruhi tindakan
Mengarahkan audiens untuk melakukan call-to-action (CTA) yang diinginkan. -
Membangun hubungan
Menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara merek dan konsumen. -
Meningkatkan konversi
Mengubah pembaca menjadi leads, pelanggan, atau pengikut setia.
Di Mana Copywriting Digunakan?
-
Iklan (cetak, digital, dan televisi)
-
Media sosial (Instagram, X/Twitter, Facebook, dan lainnya)
-
Website (artikel blog, landing page, dan deskripsi produk)
-
Email marketing
-
Naskah video, webinar, dan podcast
Siapa yang Melakukannya?
Copywriter adalah profesional yang ahli dalam menyusun kata-kata persuasif. Mereka memahami psikologi audiens, karakter brand, serta tujuan bisnis, sehingga mampu menciptakan teks yang tidak hanya menarik dibaca, tetapi juga efektif menghasilkan aksi nyata.
Menariknya, tidak ada satu teknik copywriting yang cocok untuk semua kondisi. Setiap teknik diciptakan untuk fase market, karakter audiens, dan tujuan bisnis yang berbeda.
Artikel ini akan membahas 20 macam teknik copywriting berdasarkan teori ahli dan pengalaman pribadi, mulai dari yang klasik, modern, hingga framework tingkat lanjut, lengkap dengan:
-
Penjelasan mendalam
-
Kegunaan
-
Cocok untuk niche apa
-
Kapan sebaiknya digunakan
-
Bisa berdiri sendiri atau dikombinasikan

1. AIDA (Attention – Interest – Desire – Action)
AIDA (Attention – Interest – Desire – Action) adalah model copywriting klasik dan paling populer yang digunakan untuk menarik perhatian, membangun ketertarikan, menumbuhkan keinginan, lalu mendorong tindakan secara bertahap dan sistematis.
Model ini menjadi fondasi banyak strategi pemasaran karena alurnya selaras dengan cara manusia mengambil keputusan.
Penjelasan AIDA:
-
Attention (Perhatian)
Menarik perhatian audiens dengan headline, pertanyaan, atau pernyataan kuat.
Apa yang membuat mereka berhenti dan memperhatikan? -
Interest (Ketertarikan)
Menjaga minat dengan penjelasan yang relevan dengan masalah atau kebutuhan audiens.
Kenapa ini penting bagi mereka? -
Desire (Keinginan)
Mengubah ketertarikan menjadi keinginan dengan menonjolkan manfaat dan hasil.
Apa yang akan mereka dapatkan jika memiliki ini? -
Action (Tindakan)
Mengajak audiens melakukan langkah konkret melalui CTA yang jelas.
Apa yang harus dilakukan sekarang?
Contoh singkat:
-
Attention: Website sepi pengunjung?
-
Interest: Banyak bisnis online gagal bukan karena produk, tapi karena salah strategi konten.
-
Desire: Dengan landing page yang tepat, setiap pengunjung bisa berubah jadi pelanggan.
-
Action: Hubungi kami sekarang dan mulai tingkatkan konversi Anda.
AIDA sangat cocok digunakan untuk landing page, iklan, email marketing, sales page, dan konten promosi, karena efektif mengarahkan audiens dari perhatian hingga konversi.
Cocok untuk:
Hampir semua niche:
-
Jasa
-
Produk digital
-
UMKM
-
Edukasi
-
Agency
Catatan:
AIDA sangat fleksibel dan sering dijadikan kerangka utama, lalu dikombinasikan dengan teknik lain seperti PAS atau Storytelling.
2. PAS (Problem – Agitate – Solution)
Penjelasan
PAS adalah teknik copywriting yang bekerja dengan cara menyentuh rasa sakit audiens. Teknik ini sangat kuat karena manusia secara alami ingin menghindari masalah.
Struktur:
-
Problem – Sebutkan masalah utama
-
Agitate – Perbesar dampak emosional masalah
-
Solution – Tawarkan solusi
Kegunaan:
-
Landing page konversi tinggi
-
Artikel SEO komersial
-
Copy WhatsApp closing
Cocok untuk:
-
Jasa service
-
Konsultan
-
Software
-
Solusi bisnis
Catatan:
PAS paling efektif untuk audiens yang sudah sadar masalah, tapi belum menemukan solusi terbaik.
3. FAB (Features – Advantages – Benefits)
FAB (Features – Advantages – Benefits) adalah teknik copywriting yang digunakan untuk menjelaskan nilai sebuah produk atau layanan secara runtut dan meyakinkan, dengan cara menghubungkan fitur dengan keunggulan, lalu menegaskannya sebagai manfaat nyata bagi konsumen.
Metode ini membantu calon pelanggan tidak hanya memahami apa yang ditawarkan, tetapi juga mengapa produk tersebut penting dan bagaimana dampaknya bagi mereka.
Penjelasan FAB:
-
Features (Fitur)
Karakteristik atau spesifikasi produk/jasa.
Apa yang dimiliki produk ini? -
Advantages (Keunggulan)
Nilai lebih atau fungsi dari fitur tersebut dibandingkan alternatif lain.
Apa kelebihan fitur ini? -
Benefits (Manfaat)
Dampak langsung yang dirasakan oleh pengguna.
Apa keuntungan nyata bagi pelanggan?
Contoh sederhana:
-
Feature: Laptop dengan SSD 512GB
-
Advantage: Proses baca-tulis data lebih cepat dibandingkan HDD
-
Benefit: Pekerjaan selesai lebih cepat tanpa menunggu loading lama
FAB (Features – Advantages – Benefits) cocok untuk:
-
Deskripsi produk di website atau marketplace
-
Landing page penjualan yang fokus pada edukasi dan konversi
-
Iklan produk (digital maupun cetak) yang butuh penjelasan jelas
-
Produk teknis atau fungsional (elektronik, software, alat, layanan profesional)
-
Audiens rasional yang ingin tahu detail sebelum membeli
-
Brand baru yang perlu menjelaskan nilai produknya secara runtut
-
Sales page & presentasi penjualan (proposal, pitch deck)
-
Email marketing untuk nurturing calon pelanggan
Singkatnya, FAB paling efektif saat calon pembeli masih bertanya “ini apa dan gunanya buat saya?”
Kalau targetnya emosi dan urgensi tinggi, FAB biasanya dikombinasikan dengan teknik lain seperti PAS atau AIDA agar konversinya makin kuat.
Dengan pendekatan FAB, copywriting menjadi lebih logis, persuasif, dan berorientasi pada kebutuhan audiens, sehingga efektif untuk meningkatkan minat beli dan konversi.
4. BAB (Before – After – Bridge)
BAB (Before – After – Bridge) adalah teknik copywriting yang digunakan untuk menggambarkan perubahan kondisi audiens dari sebelum memiliki solusi hingga setelah mendapatkan hasil yang diinginkan, lalu menjembatani perubahan tersebut dengan produk atau layanan yang ditawarkan.
Metode ini efektif karena memancing emosi, empati, dan imajinasi pembaca—membuat mereka merasa “ini masalah gue” lalu melihat solusi yang masuk akal.
Penjelasan BAB:
-
Before (Sebelum)
Menggambarkan kondisi atau masalah yang sedang dialami audiens.
Apa rasa sakit, frustrasi, atau hambatan mereka saat ini? -
After (Sesudah)
Menunjukkan kondisi ideal setelah masalah teratasi.
Hidup seperti apa yang mereka inginkan? -
Bridge (Jembatan)
Menjelaskan bagaimana produk atau layanan menjadi solusi yang menghubungkan kondisi before ke after.
Apa yang membuat perubahan itu bisa terjadi?
Contoh sederhana:
-
Before: Sulit dapat pelanggan meski sudah punya website.
-
After: Website mendatangkan leads setiap hari tanpa harus promosi terus-menerus.
-
Bridge: Dengan landing page SEO + copywriting yang dirancang khusus untuk konversi.
BAB sangat cocok digunakan untuk headline, opening landing page, iklan, dan konten promosi karena langsung menyentuh masalah dan harapan audiens.
5. 4P (Picture – Promise – Prove – Push)
4P (Picture – Promise – Prove – Push) adalah teknik copywriting yang digunakan untuk membangun imajinasi, menanamkan harapan, memperkuat kepercayaan, lalu mendorong tindakan secara berurutan dan persuasif.
Metode ini efektif untuk konten penjualan karena membawa audiens dari membayangkan hasil hingga siap mengambil keputusan.
Penjelasan 4P:
-
Picture (Gambarkan)
Mengajak audiens membayangkan situasi, masalah, atau kondisi ideal yang relevan dengan mereka.
Apa yang sedang atau ingin mereka alami? -
Promise (Janji)
Menawarkan solusi atau hasil yang jelas dan menarik.
Perubahan apa yang akan mereka dapatkan? -
Prove (Buktikan)
Memberikan bukti untuk memperkuat klaim, seperti testimoni, data, studi kasus, atau pengalaman.
Kenapa janji ini bisa dipercaya? -
Push (Dorong)
Mengajak audiens segera bertindak dengan CTA yang tegas.
Apa langkah selanjutnya yang harus mereka lakukan sekarang?
Contoh singkat:
-
Picture: Bayangkan website Anda ramai pengunjung setiap hari.
-
Promise: Dengan strategi SEO yang tepat, bisnis Anda bisa muncul di halaman pertama Google.
-
Prove: Sudah digunakan oleh ratusan UMKM dengan peningkatan traffic hingga 3x lipat.
-
Push: Konsultasikan sekarang sebelum kompetitor Anda mendahului.
4P sangat cocok untuk landing page, iklan digital, sales page, dan email promosi yang menuntut kepercayaan dan aksi cepat dari audiens.
6. Storytelling Copywriting
Storytelling Copywriting adalah teknik copywriting yang menyampaikan pesan penjualan melalui cerita yang relevan, emosional, dan mudah dihubungkan dengan pengalaman audiens, sehingga pesan terasa alami, tidak menggurui, dan tidak terasa seperti sedang “dijuali”.
Alih-alih langsung menawarkan produk, storytelling copywriting mengajak pembaca masuk ke dalam alur cerita—mengenal masalah, konflik, proses, hingga solusi—lalu secara halus menempatkan produk atau layanan sebagai bagian dari solusi tersebut.
Ciri utama Storytelling Copywriting:
-
Menggunakan alur cerita (awal – konflik – solusi)
-
Fokus pada pengalaman nyata atau situasi yang relatable
-
Memicu emosi (empati, harapan, keinginan, kepercayaan)
-
Penawaran terasa halus dan natural
Mengapa efektif?
-
Cerita lebih mudah diingat dibandingkan fakta
-
Membuat audiens merasa “ini gue banget”
-
Membangun kepercayaan dan kedekatan dengan brand
-
Meningkatkan engagement dan konversi
Contoh singkat:
“Dulu saya pikir punya website saja sudah cukup. Tapi setiap hari sepi, tidak ada chat masuk. Sampai akhirnya saya sadar, masalahnya bukan di websitenya—tapi di cara saya berbicara ke calon pelanggan…”
Storytelling Copywriting sangat cocok digunakan untuk brand story, landing page, konten media sosial, email marketing, dan halaman ‘About Us’, terutama jika targetnya adalah membangun koneksi emosional dan loyalitas jangka panjang.
7. SLAP (Stop – Look – Act – Purchase)
SLAP (Stop – Look – Act – Purchase) adalah teknik copywriting yang dirancang untuk menarik perhatian dengan cepat, mempertahankan fokus audiens, mendorong interaksi, lalu mengarahkan pada pembelian. Metode ini sangat efektif untuk konten dengan waktu baca singkat dan audiens yang mudah terdistraksi.
Penjelasan SLAP:
-
Stop (Hentikan perhatian)
Menggunakan headline, visual, atau kalimat pembuka yang kuat agar audiens berhenti scroll.
Apa yang langsung membuat mereka berhenti? -
Look (Buat tertarik melihat lebih jauh)
Mempertahankan perhatian dengan pesan yang relevan, jelas, dan menggugah rasa ingin tahu.
Kenapa mereka harus terus membaca atau menonton? -
Act (Dorong interaksi)
Mengajak audiens melakukan aksi ringan seperti klik, komentar, atau buka detail.
Apa tindakan kecil yang bisa dilakukan sekarang? -
Purchase (Arahkan ke pembelian)
Menutup dengan ajakan membeli atau konversi utama.
Bagaimana cara mereka mendapatkan solusi ini?
Contoh singkat:
-
Stop: “Website sepi? Ini penyebab yang sering diabaikan!”
-
Look: “Banyak bisnis online gagal bukan karena produk, tapi karena salah strategi konten.”
-
Act: “Klik untuk lihat solusinya.”
-
Purchase: “Gunakan jasa landing page konversi tinggi sekarang.”
SLAP sangat cocok untuk iklan digital, media sosial, banner ads, dan video short yang membutuhkan dampak cepat dan keputusan instan.
8. ACCA (Awareness – Comprehension – Conviction – Action)
ACCA (Awareness – Comprehension – Conviction – Action) adalah model copywriting dan komunikasi pemasaran yang berfokus pada membangun kesadaran hingga mendorong tindakan secara bertahap dan logis. Metode ini cocok untuk audiens yang perlu diedukasi sebelum yakin mengambil keputusan.
Penjelasan ACCA:
-
Awareness (Kesadaran)
Membuat audiens menyadari adanya masalah, kebutuhan, atau peluang.
Apa yang sebenarnya sedang mereka alami? -
Comprehension (Pemahaman)
Menjelaskan masalah dan solusi secara jelas agar audiens benar-benar mengerti.
Kenapa masalah ini terjadi dan bagaimana solusinya? -
Conviction (Keyakinan)
Membangun kepercayaan dan keyakinan bahwa solusi yang ditawarkan adalah pilihan terbaik.
Mengapa mereka harus percaya dan memilih Anda? -
Action (Tindakan)
Mengarahkan audiens untuk melakukan langkah konkret.
Apa yang harus mereka lakukan sekarang?
Contoh singkat:
-
Awareness: Banyak UMKM punya website tapi tidak menghasilkan penjualan.
-
Comprehension: Masalahnya bukan di produk, melainkan pada struktur halaman dan pesan yang tidak fokus konversi.
-
Conviction: Dengan landing page berbasis copywriting dan SEO, konversi bisa meningkat signifikan—terbukti dari klien yang sudah berhasil.
-
Action: Konsultasikan kebutuhan website Anda sekarang.
ACCA sangat cocok digunakan untuk konten edukasi, artikel SEO, landing page informatif, presentasi bisnis, dan email nurturing, terutama untuk produk atau layanan yang membutuhkan pertimbangan sebelum dibeli.
9. ODC (Offer – Deadline – Call to Action)
ODC (Offer – Deadline – Call to Action) adalah teknik copywriting yang berfokus pada penawaran yang jelas, urgensi waktu, dan ajakan bertindak yang tegas untuk mempercepat pengambilan keputusan audiens. Metode ini sangat efektif untuk mendorong konversi cepat.
Penjelasan ODC:
-
Offer (Penawaran)
Menyampaikan apa yang ditawarkan secara spesifik dan bernilai.
Apa yang akan audiens dapatkan dan kenapa menarik? -
Deadline (Batas Waktu)
Memberikan batas waktu atau ketersediaan terbatas untuk menciptakan urgensi.
Kenapa harus sekarang, bukan nanti? -
Call to Action (Aksi)
Mengarahkan audiens pada tindakan yang jelas dan mudah dilakukan.
Apa langkah konkret yang harus diambil saat ini?
Contoh singkat:
-
Offer: Diskon 30% jasa landing page konversi tinggi.
-
Deadline: Berlaku hanya sampai 31 Januari.
-
Call to Action: Klik tombol WhatsApp dan amankan slot Anda sekarang.
ODC sangat cocok digunakan untuk promo terbatas, flash sale, closing penjualan, iklan berorientasi konversi, dan broadcast WhatsApp, karena langsung menekan urgensi dan meminimalkan keraguan audiens.
10. QUEST (Qualify – Understand – Educate – Stimulate – Transition)
QUEST (Qualify – Understand – Educate – Stimulate – Transition) adalah teknik copywriting yang menekankan pemahaman mendalam terhadap audiens, lalu membimbing mereka secara halus dari kesadaran masalah hingga siap mengambil keputusan, tanpa terasa memaksa.
Metode ini sangat efektif untuk produk atau layanan yang membutuhkan edukasi dan kepercayaan sebelum terjadi konversi.
Penjelasan QUEST:
-
Qualify (Menyaring audiens)
Mengidentifikasi dan menyapa audiens yang tepat dengan pertanyaan atau pernyataan yang relevan.
Apakah konten ini benar untuk mereka? -
Understand (Memahami masalah)
Menunjukkan empati dengan menggambarkan masalah, kebutuhan, atau frustrasi audiens.
Apa yang sedang mereka rasakan? -
Educate (Mengedukasi)
Memberikan penjelasan, wawasan, atau solusi secara jelas dan bernilai.
Apa yang perlu mereka ketahui agar lebih paham? -
Stimulate (Merangsang keinginan)
Menumbuhkan minat dan keinginan melalui manfaat, hasil, atau kemungkinan yang bisa dicapai.
Apa yang bisa berubah jika masalah ini teratasi? -
Transition (Mengalihkan ke aksi)
Mengarahkan audiens menuju langkah selanjutnya secara natural.
Apa aksi logis berikutnya?
Contoh singkat:
-
Qualify: Punya website tapi belum menghasilkan penjualan?
-
Understand: Banyak bisnis mengalami hal yang sama karena pesan websitenya tidak fokus konversi.
-
Educate: Struktur landing page yang tepat mampu mengarahkan pengunjung menjadi pembeli.
-
Stimulate: Bayangkan jika setiap pengunjung website punya potensi menjadi pelanggan.
-
Transition: Mulai dengan konsultasi landing page gratis hari ini.
QUEST sangat cocok digunakan untuk artikel edukasi, landing page panjang (long-form), email nurturing, dan konten B2B, karena membangun hubungan dan keyakinan secara bertahap.
11. PPPP (Picture – Promise – Prove – Push)
PPPP (Picture – Promise – Prove – Push) adalah teknik copywriting yang berfokus pada membangun imajinasi, menawarkan hasil yang jelas, membuktikan klaim, lalu mendorong audiens untuk bertindak secara sistematis dan persuasif.
Model ini sering digunakan dalam konten penjualan karena alurnya kuat: dari emosi → logika → aksi.
Penjelasan PPPP:
-
Picture (Gambarkan)
Mengajak audiens membayangkan situasi, masalah, atau kondisi ideal yang mereka inginkan.
Apa yang ingin atau sedang mereka alami? -
Promise (Janji)
Menyampaikan solusi atau hasil utama yang ditawarkan secara spesifik dan menarik.
Perubahan apa yang akan mereka dapatkan? -
Prove (Buktikan)
Menguatkan janji dengan bukti nyata seperti testimoni, data, studi kasus, portofolio, atau pengalaman.
Kenapa klaim ini layak dipercaya? -
Push (Dorong)
Memberikan ajakan bertindak yang tegas dan jelas agar audiens segera mengambil keputusan.
Apa langkah yang harus dilakukan sekarang?
Contoh singkat:
-
Picture: Bayangkan website Anda menghasilkan pelanggan setiap hari.
-
Promise: Landing page berbasis copywriting bisa meningkatkan konversi secara signifikan.
-
Prove: Telah digunakan oleh ratusan UMKM dengan hasil terbukti.
-
Push: Hubungi kami sekarang dan amankan slot Anda.
PPPP sangat cocok digunakan untuk landing page, sales page, iklan digital, email promosi, dan halaman penawaran, terutama saat tujuan utamanya adalah closing dan konversi.
12. Soft Sell Copywriting
Soft Sell Copywriting adalah pendekatan copywriting yang menjual tanpa terasa menjual. Teknik ini berfokus pada membangun hubungan, kepercayaan, dan nilai terlebih dahulu, lalu mengarahkan audiens ke penawaran secara halus, natural, dan tidak memaksa.
Alih-alih langsung mendorong pembelian, soft sell mengutamakan edukasi, empati, dan storytelling, sehingga audiens merasa dipahami dan datang ke keputusan sendiri.
Ciri utama Soft Sell Copywriting:
-
Nada komunikasi santai dan bersahabat
-
Fokus pada masalah dan kebutuhan audiens
-
Penawaran disisipkan secara alami
-
Minim tekanan dan urgensi berlebihan
Mengapa efektif?
-
Membangun kepercayaan jangka panjang
-
Cocok untuk audiens yang sensitif terhadap hard selling
-
Meningkatkan loyalitas dan brand image
-
Efektif untuk produk bernilai tinggi atau keputusan panjang
Contoh singkat:
“Kalau website Anda sudah ada tapi belum menghasilkan, mungkin bukan produknya yang salah. Bisa jadi pesan yang disampaikan belum benar-benar berbicara ke calon pelanggan…”
Soft Sell Copywriting sangat cocok digunakan untuk konten edukasi, artikel blog, email nurturing, media sosial, dan personal branding, terutama saat tujuan utamanya adalah hubungan jangka panjang dan trust, bukan sekadar penjualan cepat.
13. Hard Sell Copywriting
Hard Sell Copywriting adalah pendekatan copywriting yang secara langsung dan tegas mendorong audiens untuk segera membeli atau mengambil tindakan, dengan penekanan kuat pada penawaran, urgensi, dan CTA yang jelas. Teknik ini tidak bertele-tele dan fokus pada hasil cepat.
Berbeda dengan soft sell, hard sell menargetkan audiens yang sudah siap membeli dan hanya membutuhkan dorongan terakhir untuk mengambil keputusan.
Ciri utama Hard Sell Copywriting:
-
Bahasa lugas, to the point, dan persuasif
-
CTA kuat dan eksplisit
-
Menggunakan urgensi (deadline, stok terbatas, bonus)
-
Fokus pada penawaran dan hasil instan
Mengapa efektif?
-
Mempercepat proses closing
-
Cocok untuk promo terbatas dan flash sale
-
Efektif untuk audiens dengan niat beli tinggi
-
Menghasilkan konversi cepat
Contoh singkat:
“Diskon 40% jasa landing page hari ini saja! Slot terbatas. Klik WhatsApp sekarang sebelum penuh.”
Hard Sell Copywriting sangat cocok digunakan untuk promo singkat, iklan berbayar, broadcast WhatsApp, sales page, dan campaign closing, terutama saat tujuan utamanya adalah penjualan cepat dan volume konversi tinggi.
14. AEC (Awareness – Education – Conversion)
AEC (Awareness – Education – Conversion) adalah model copywriting dan marketing funnel sederhana yang menekankan proses mengenalkan masalah, memberikan pemahaman, lalu mengarahkan audiens pada tindakan pembelian secara bertahap dan efektif.
Model ini cocok untuk strategi konten yang berorientasi jangka menengah hingga panjang, terutama dalam digital marketing dan SEO.
Penjelasan AEC:
-
Awareness (Kesadaran)
Membuat audiens sadar akan masalah, kebutuhan, atau peluang yang relevan dengan mereka.
Apa yang sebenarnya sedang mereka alami atau butuhkan? -
Education (Edukasi)
Memberikan informasi, solusi, dan insight yang membantu audiens memahami masalah serta opsi penyelesaiannya.
Kenapa masalah ini terjadi dan bagaimana cara mengatasinya? -
Conversion (Konversi)
Mengarahkan audiens untuk mengambil tindakan yang diinginkan, seperti membeli, mendaftar, atau menghubungi.
Apa langkah terbaik yang bisa mereka ambil sekarang?
Contoh singkat:
-
Awareness: Banyak UMKM punya website tapi tidak menghasilkan penjualan.
-
Education: Website perlu struktur konten dan copywriting yang fokus pada konversi.
-
Conversion: Gunakan jasa landing page profesional dan mulai hasilkan pelanggan.
AEC sangat cocok digunakan untuk artikel SEO, blog edukatif, landing page informatif, email marketing, dan strategi content marketing, karena membangun kepercayaan sebelum mendorong penjualan.
15. 4C (Clear – Concise – Compelling – Credible)
4C (Clear – Concise – Compelling – Credible) adalah prinsip dasar copywriting yang digunakan untuk memastikan pesan pemasaran mudah dipahami, singkat, menarik, dan dapat dipercaya. Model ini membantu copy tetap efektif, terutama di tengah audiens yang memiliki perhatian terbatas.
Penjelasan 4C:
-
Clear (Jelas)
Pesan disampaikan secara lugas dan tidak membingungkan. Audiens langsung paham apa yang ditawarkan.
Apakah pesan ini mudah dimengerti? -
Concise (Ringkas)
Menghindari kata-kata bertele-tele dan langsung ke inti pesan.
Apakah setiap kalimat punya fungsi? -
Compelling (Menarik)
Mengandung daya tarik emosional atau rasional yang membuat audiens ingin terus membaca.
Apa alasan kuat untuk memperhatikan pesan ini? -
Credible (Dapat dipercaya)
Didukung oleh bukti, data, testimoni, atau otoritas yang relevan.
Kenapa audiens harus percaya?
Contoh singkat:
“Landing page konversi tinggi untuk UMKM. Desain cepat, copywriting teruji, hasil terbukti oleh ratusan klien.”
4C sangat cocok digunakan untuk headline, tagline, iklan digital, bio media sosial, deskripsi produk, dan pesan promosi singkat, karena memastikan pesan tetap kuat meski disampaikan secara padat.
16. LPP (Logic – Proof – Promise)
LPP (Logic – Proof – Promise) adalah teknik copywriting yang menekankan alur berpikir rasional, dengan cara meyakinkan audiens melalui logika yang masuk akal, bukti yang kuat, lalu ditutup dengan janji hasil yang relevan bagi mereka.
Model ini sangat efektif untuk audiens yang kritis, analitis, dan butuh alasan kuat sebelum mengambil keputusan.
Penjelasan LPP:
-
Logic (Logika)
Menjelaskan masalah dan solusi secara masuk akal dan terstruktur.
Kenapa masalah ini terjadi dan apa solusi yang paling rasional? -
Proof (Bukti)
Menguatkan penjelasan dengan data, fakta, testimoni, studi kasus, atau pengalaman nyata.
Apa bukti bahwa solusi ini benar-benar bekerja? -
Promise (Janji)
Menyampaikan hasil atau manfaat utama yang bisa diharapkan audiens.
Apa dampak positif yang akan mereka dapatkan?
Contoh singkat:
-
Logic: Website tanpa struktur konversi akan sulit menghasilkan penjualan.
-
Proof: Klien kami mengalami peningkatan leads hingga 2–3x setelah optimasi landing page.
-
Promise: Website Anda bisa mulai menghasilkan pelanggan secara konsisten.
LPP sangat cocok digunakan untuk konten B2B, proposal bisnis, presentasi penjualan, landing page teknis, dan produk bernilai tinggi, karena membangun keyakinan melalui pendekatan logis dan terpercaya.
17. Emotional Copywriting
Emotional Copywriting adalah teknik copywriting yang berfokus pada memicu emosi audiens—bukan sekadar logika—untuk mendorong perhatian, keterlibatan, dan tindakan. Pendekatan ini bekerja dengan menyentuh perasaan terdalam seperti takut, harapan, senang, bangga, cemas, atau keinginan untuk berubah.
Alih-alih hanya menjelaskan fitur atau fakta, emotional copywriting berbicara pada “rasa” audiens, karena pada praktiknya orang membeli karena emosi, lalu membenarkannya dengan logika.
Emosi yang sering digunakan:
-
Takut kehilangan (fear / loss aversion)
-
Harapan dan impian
-
Rasa aman dan nyaman
-
Keinginan diakui atau dihargai
-
Rasa bersalah, cemas, atau frustrasi
-
Kebanggaan dan pencapaian
Mengapa efektif?
-
Cepat menarik perhatian
-
Membuat pesan lebih mudah diingat
-
Meningkatkan keterikatan dengan brand
-
Mendorong keputusan lebih cepat
Contoh singkat:
“Berapa banyak peluang yang sudah hilang hanya karena website Anda sepi pengunjung?”
Emotional Copywriting sangat cocok digunakan untuk headline, iklan, landing page, video promosi, email campaign, dan konten storytelling, terutama ketika tujuan utamanya adalah membangkitkan rasa ‘harus bertindak sekarang’.
18. Rational Copywriting
Rational Copywriting adalah pendekatan copywriting yang menekankan logika, data, dan alasan rasional untuk meyakinkan audiens. Teknik ini berfokus pada mengapa sebuah produk masuk akal untuk dibeli, bukan pada dorongan emosi semata.
Pendekatan ini cocok untuk audiens yang analitis, kritis, dan membutuhkan pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan.
Ciri utama Rational Copywriting:
-
Menjelaskan manfaat secara logis dan terstruktur
-
Menyertakan data, fakta, dan perbandingan
-
Fokus pada fungsi, efisiensi, dan ROI
-
Minim dramatisasi dan emosi berlebihan
Mengapa efektif?
-
Membangun kepercayaan melalui kejelasan
-
Cocok untuk produk bernilai tinggi atau teknis
-
Membantu audiens merasa yakin dan aman saat membeli
-
Mengurangi keraguan dan keberatan
Contoh singkat:
“Landing page yang dioptimasi dengan struktur copywriting terbukti meningkatkan rasio konversi hingga 2–3x dibandingkan halaman biasa.”
Rational Copywriting sangat cocok digunakan untuk produk B2B, jasa profesional, software, proposal bisnis, artikel edukatif, dan landing page informatif, terutama saat audiens membutuhkan alasan kuat dan bukti nyata sebelum mengambil keputusan.
19. Inverted Pyramid Copywriting
Inverted Pyramid Copywriting adalah teknik penulisan yang menyampaikan informasi paling penting di awal, lalu diikuti penjelasan pendukung dan detail tambahan di bagian akhir. Pola ini membalik struktur cerita tradisional, sehingga audiens langsung mendapatkan inti pesan tanpa harus membaca semuanya.
Teknik ini berasal dari dunia jurnalistik, namun sangat efektif diterapkan dalam copywriting modern—terutama untuk audiens dengan rentang perhatian pendek.
Struktur Inverted Pyramid:
-
Informasi inti (What & Why)
Pesan utama, manfaat terbesar, atau poin paling penting. -
Penjelasan pendukung (How)
Alasan, konteks, atau cara kerja secara ringkas. -
Detail tambahan (Supporting details)
Data, contoh, atau informasi pelengkap.
Contoh singkat:
“Jasa landing page yang meningkatkan konversi UMKM hingga 3x lipat.
Dirancang dengan struktur copywriting dan SEO yang terbukti efektif.
Cocok untuk bisnis yang ingin hasil cepat dan terukur.”
Mengapa efektif?
-
Menarik perhatian sejak kalimat pertama
-
Pesan utama tetap tersampaikan meski tidak dibaca penuh
-
Cocok untuk mobile reader dan skimming
Inverted Pyramid Copywriting sangat cocok digunakan untuk headline, opening artikel, press release, email marketing, deskripsi produk, dan konten SEO, karena memastikan pesan utama langsung tersampaikan dengan jelas dan cepat.
20. Micro Copywriting
Micro Copywriting adalah teknik copywriting yang berfokus pada teks-teks pendek namun krusial yang berperan besar dalam membimbing, meyakinkan, dan mendorong aksi pengguna—terutama dalam pengalaman digital.
Meski ukurannya kecil, micro copy memiliki dampak besar karena muncul tepat di titik keputusan pengguna.
Contoh micro copy:
-
Teks pada tombol (CTA): “Daftar Gratis”, “Mulai Sekarang”
-
Keterangan di bawah form: “Data Anda aman & tidak dibagikan”
-
Pesan error atau notifikasi
-
Placeholder pada kolom input
-
Tooltip, hint, dan pesan konfirmasi
Fungsi utama Micro Copywriting:
-
Mengurangi keraguan dan rasa takut pengguna
-
Memberi arahan yang jelas dan cepat dipahami
-
Meningkatkan konversi tanpa mengubah desain
-
Memperhalus pengalaman pengguna (UX)
Contoh singkat:
Tombol: “Konsultasi Sekarang”
Micro copy di bawahnya: “Gratis, tanpa komitmen”
Micro Copywriting sangat cocok digunakan untuk website, landing page, aplikasi, checkout page, form pendaftaran, dan email singkat, karena membantu pengguna merasa lebih yakin untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Cara Mengombinasikan Teknik Copywriting dengan Efektif
Copywriter profesional jarang menggunakan satu teknik saja.
Contoh kombinasi ideal:
-
PAS + AIDA → Landing page
-
Storytelling + Soft Sell → Artikel SEO
-
FAB + Proof → Produk teknis
-
ODC + Hard Sell → Closing
Kesimpulan
Copywriting bukan soal “teknik mana yang paling hebat”, tapi:
Teknik mana yang paling sesuai dengan kondisi market, tujuan bisnis, dan fase audiens.
Dengan memahami 20 macam teknik copywriting dan kegunaannya, kamu bisa:
-
Menulis konten SEO yang lebih hidup
-
Membuat landing page konversi tinggi
-
Menyusun penawaran yang tepat sasaran
-
Menghemat waktu trial & error
Jika anda memerlukan Jasa Copiwriting Profesional untuk jualan produk atau jasa anda, silahkan hubungi kami OkeNih.Com di 0823-1050-1613
